Thursday, March 28, 2013

Mari Berpikir Logis

Kita sudah begitu sering berpikir, rasanya berpikir itu begitu mudah. Sejak kecil, kita sudah terbiasa berpikir. Hampir setiap hari kita berdialog dengan diri sendiri, berdialog dengan orang lain, melihat, berbicara, membaca, lalu menarik kesimpulan-kesimpulan dari apa yang kita lihat dan kita dengar. Seringkali hampir tanpa disadari kita menggunakan ungkapan penyimpulan, seperti "ini begini karena itu" atau "kalau begini maka begitu" dan sebagainya. Namun, apabila diselidiki lebih lanjut, ternyata berpikir dengan teliti dan tepat merupakan kegiatan yang cukup sukar juga. Kadang kita menemukan beberapa penalaran yang tidak nyambung.

Pada dasarnya, tujuan pemikiran manusia adalah mencapai pengetahuan yang benar dan sedapat mungkin pasti. Meskipun pada kenyataannya hasil pemikiran (kesimpulan) maupun alasan-alasan yang diajukan belum tentu benar. Apa yang dimaksud dengan benar ?

Benar adalah sesuai dengan kenyataan, sedangkan salah adalah tidak sesuai dengan kenyataan. Jadi, apabila yang dipikirkan atau dikatakan sesuai dengan realita maka dikatakan benar, namun apabila tidak sesuai maka dikatakan salah. Jadi, ukuran untuk menentukan apakah suatu pemikiran atau ucapan itu benar (atau tidak benar) bukanlah rasa senang atau tidak senang, enak didengar atau tidak enak, melainkan cocok atau tidak dengan realitas. Perlu diperhatikan juga apakah suatu hal/peristiwa dibahas dengan semestinya atau tidak. Agar suatu pemikiran dan penalaran dapat menelorkan kesimpulan yang benar, ada tiga syarat pokok yang harus dipenuhi
  1. Pemikiran harus berpangkal dari kenyataan. Suatu pemikiran yang tidak berpangkal dari kenyataan atau dalil yang benar tentu tidak akan menghasilkan kesimpulan yang benar, meskipun jalan pikirannya "logis". Kalau titik pangkal suatu pemikiran tidak pasti maka kesimpulan yang ditarik juga tidak akan pasti, bahkan mungkin salah. Di sini kita perlu membedakan antara kepastian subjektif (saya merasa pasti) dengan kepastian objektif (faktanya memang demikian). Perasaan subjektif belumlah merupakan bukti bahwa sesuatu tentu benar.
  2. Alasan-alasan yang diajukan harus tepat dan kuat. Seringkali terjadi orang menyampaikan pendapat atau pernyataan tetapi sama sekali tidak dibuktikan atau didukung dengan alasan-alasan. Di sisi yang lain, orang merasa 'pasti' dan yakin dalam menarik kesimpulan padahal ia tidak memiliki alasan, atau alasan-alasan yang dikemukakan tidak kuat. Ada hal-hal yang dapat dibuktikan hanya dengan menunjukkan pada fakta. Namun ada banyak hal yang hanya dapat dibuktikan dengan suatu pemikiran yang merupakan suatu rangkaian langkah-langkah, disusun secara logis menjadi suatu jalan pikiran. Untuk menganalisis jalan pikiran seperti itu, langkah-langkah dan alasan perlu dieksplisitkan terlebih dahulu
  3. Jalan pikiran harus logis dan lurus. Jika titik pangkal memang benar dan tepat, tetapi jalan pikiran (urutan langkah-langkahnya) tidak tepat, maka  kesimpulan juga tidak tepat dan benar. Jalan pikiran itu mengenai pertalian atau hubungan antara titik pangkal/alasan/premis-premis dan kesimpulan yang ditarik darinya. Jika hubungan tersebut tepat dan logis, maka kesimpulan tersebut sah.
Sebagai contoh, bandingkanlah tiga pemikiran berikut ini. Perhatikanlah mengapa kesimpulan salah.
1.    Semua orang berambut gondrong itu penjahat
       Para penjahat harus dihukum.
       Kesimpulan: Semua orang yang berambut gondrong harus dihukum
Jalan pikiran logis namun kesimpulan salah karena titik pangkal salah yakni Berambut gondrong tidak sama dengan penjahat
2.    Teman saya mempunyai mobil. Oleh karena itu saya pun harus punya mobil.
 Tidak cukup alasan, saya dan teman saya sama dalam hal apa.
3.   Semua sapi itu binatang
      Semua kuda itu binatang
      Kesimpulan: Jadi sapi itu kuda.
Kalimat pertama dan kedua memang benar tetapi kesimpulannya salah karena jalan pikiran (kaitan antara premis dan kesimpulan) keliru.

Sumber: Poespoprodjo dan EK T. Gilarso. Logika Ilmu Menalar. 2011. Bandung: Pustaka Grafika
Sumber gambar: disini

No comments :

Post a Comment